Terkini
Artikel dan ulasan politik

ANALISA

Pengamat: Kunjungan Gibran ke Sulbar Bukan Sekadar Seremoni

Pengamat kebijakan publik M Kafrawy Saenong menilai kunjungan Gibran ke Sulawesi Barat pada 2 November 2026 sebagai momentum penguatan ekonomi petani dan toleransi — nilainya akan diuji dari tindak lanjut, bukan dari seremoni.

Oleh 05 NOV 2026 3 menit baca
Ilustrasi perkebunan kakao dan perayaan komunitas di Sulawesi Barat

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka datang ke Sulawesi Barat pada Senin, 2 November 2026, di tengah sorotan tajam atas putusan MA soal suket pendidikannya. Ia menghadiri puncak peringatan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK) di Tamalea, Desa Bonehau, Kabupaten Mamuju, setelah sebelumnya menerima audiensi pengurus Majelis Pekerja Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB) pada 20 Oktober 2026. Di hadapan jemaat dan tokoh adat, Gibran menyampaikan pesan persatuan dan kewaspadaan terhadap hoaks, menandatangani prasasti Monumen 1 Abad IMTK, dan menanam bibit pohon mangga sebagai simbol kepedulian lingkungan.

Pengamat kebijakan publik M Kafrawy Saenong, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta pada Rabu, 4 November 2026, menilai kunjungan itu membawa dua pesan sekaligus: penguatan ekonomi petani dan penegasan toleransi. Penilaian itu merujuk pada dua agenda yang sama-sama terjadi di Mamuju — dialog dengan petani kakao di Pusat Benih Kakao Mamunyu dan kehadiran di peringatan satu abad Injil masuk Tanah Kalumpang sejak 1926. Menurut Kafrawy, peringatan tersebut adalah kesempatan bagi masyarakat untuk belajar tentang toleransi, dan kehadiran wakil presiden di sana membawa pesan penghormatan terhadap keberagaman agama, budaya, dan sosial Indonesia.

Kakao: angka yang tidak bisa dijawab dengan pantun

Bagian paling konkret dari kunjungan ini justru bukan di panggung peringatan, melainkan di dialog petani. Sekitar 300 petani dan pimpinan kelompok tani menyampaikan keluhan yang berulang: distribusi pupuk bersubsidi, kebutuhan bibit bermutu, pengendalian hama, keterbatasan sarana perkebunan, jalan menuju kebun yang rusak, dan harga kakao kering yang berfluktuasi — dari puncaknya sekitar Rp180.000 per kilogram menjadi sekitar Rp50.000 per kilogram menurut petani dalam dialog tersebut. Gibran merespons dengan janji berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk kelancaran pupuk dan pemenuhan alat, serta perbaikan akses jalan ke kebun.

Angka BPS Sulawesi Barat memberi konteks mengapa keluhan itu penting: produksi kakao rakyat provinsi tersebut mencapai 66.100 ton pada 2025, dan kakao adalah salah satu komoditas unggulan daerah. Artinya, kunjungan ini menyentuh dapur ekonomi banyak keluarga, bukan sekadar agenda simbolik. Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, yang mendampingi Gibran, juga menyoroti ketertinggalan infrastruktur Kalumpang, terutama akses jalan — persoalan yang sama disuarakan Gibran saat berjanji mengintensifkan komunikasi dengan gubernur dan bupati untuk menyelesaikan persoalan wilayah 3T, termasuk infrastruktur, kesehatan, sekolah, dan jaringan telekomunikasi.

Ujian sesungguhnya ada setelah rombongan pulang

Analisisnya harus jujur pada dua sisi. Kehadiran seorang wakil presiden di perayaan keagamaan di daerah pedalaman memang punya nilai simbolik: negara hadir, kerukunan diakui, dan pesan moderasi disampaikan langsung, bukan lewat siaran pers dari Jakarta. Tetapi simbol tidak memperbaiki jalan, tidak menstabilkan harga kakao, dan tidak mempercepat pupuk sampai ke kebun. Karena itu, penilaian Kafrawy — bahwa kunjungan ini adalah “kesempatan” — tepat pada kata kuncinya: kesempatan, bukan hasil.

Tidak ada bukti dalam pemberitaan yang tersedia bahwa kunjungan ini dirancang sebagai pengalihan dari polemik suket, dan artikel ini tidak menyimpulkan demikian. Yang bisa diuji publik justru jauh lebih sederhana dan lebih adil: apakah dalam beberapa bulan ke depan distribusi pupuk di Mamuju membaik, apakah jalan ke sentra kakao diperbaiki, dan apakah janji koordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten itu menghasilkan keputusan anggaran atau hanya berhenti di pernyataan. Jika tiga hal itu tidak bergerak, maka kunjungan Sulbar akan dikenang sebagai seremoni yang rapi di tengah badai politik. Jika bergerak, barulah ia layak disebut kunjungan kerja.

Nara UlasPolitik

Nara UlasPolitik adalah editor di UlasPolitik yang setiap hari mengikuti perkembangan politik Indonesia, dari Istana dan DPR hingga putusan pengadilan dan dinamika partai. Ia suka membedah isu yang rumit menjadi analisa yang masuk akal, dengan memisahkan fakta resmi, klaim pihak tertentu, dan spekulasi media sosial. Di luar layar, ia gemar membaca berita dari berbagai sumber, mencatat peta politik yang berubah cepat, dan mencari sudut yang paling relevan bagi pembaca di Indonesia.

Baca juga.

Ilustrasi gedung dan proses hukum KPK
Analisa

Eks Sekjen MPR Segera Diadili, KPK Rampungkan Penyidikan

KPK menyatakan penyidikan dugaan gratifikasi mantan Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono telah lengkap lewat penyerahan tahap II pada 4 November 2026, sehingga perkara kini masuk tahap penuntutan — tetapi bersalah atau tidaknya tetap harus dibuktikan di pengadilan.

Ilustrasi ruang sidang dan dokumen putusan terkait suket penyetaraan pendidikan
Analisa

Suket Gibran Dibatalkan MA, Pakar: Bisa Diajukan Ulang

Putusan kasasi MA membatalkan suket penyetaraan SMA Gibran, tetapi pakar yang dikutip CNN Indonesia menilai dokumen itu masih bisa diajukan ulang — langkah yang tidak otomatis memulihkan syarat pencalonan 2024 maupun jabatan Wakil Presiden.

Ilustrasi pertemuan di Istana Merdeka
Analisa

Mualem ke Istana: Otsus, Bendera Aceh, dan Blang Padang

Gubernur Aceh Muzakir Manaf membawa empat isu strategis ke Istana Merdeka pada 4 November 2026. Pertemuan itu membuka jalan, tetapi belum menghasilkan keputusan yang diumumkan soal dana Otsus, bendera Aceh, maupun status Blang Padang.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasPolitik. Artikel dan ulasan politik