Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan apresiasi berupa cashback harian bagi masyarakat yang tertib membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Program ini berlaku mulai 5 November hingga 31 Desember 2026, menurut Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Tengah Muhamad Masrofi, dan dijalankan atas arahan Gubernur Ahmad Luthfi. Ini bukan pemotongan pajak. Ini hadiah kecil untuk yang datang tepat waktu — dan cara Bapenda mengujinya adalah antrean.
Cara Mendapatkannya — dan Syarat yang Menggugurkan
Setiap hari tersedia lima penerima cashback: tiga untuk pembayaran pajak tahunan dan dua untuk pembayaran pajak lima tahunan. Penerima ditentukan berdasarkan nomor urut antrean kedatangan di Samsat Induk. Syaratnya ketat dan patut dicatat pembaca: program hanya untuk wajib pajak orang pribadi — bukan instansi atau perusahaan — dengan kendaraan terdaftar di wilayah Jawa Tengah. Pembayaran harus dilakukan langsung di Samsat Induk, saat jatuh tempo maupun sebelum jatuh tempo. KTP asli wajib pajak harus sesuai dengan nama pada STNK asli kendaraan. Cashback gugur bila pembayaran melewati tanggal jatuh tempo, identitas KTP dan STNK tidak sesuai, menggunakan identitas orang lain, atau transaksi gagal, dibatalkan, maupun terindikasi duplikasi. Masrofi menegaskan, nomor antrean pertama atau kedua pun tidak otomatis menang bila persyaratannya tidak lengkap. Besaran nominal cashback tidak disebutkan dalam laporan-laporan yang diverifikasi untuk artikel ini — pembaca tidak boleh mengasumsikan jumlah tertentu sebelum ada pengumuman resmi Bapenda.
Hadiah Kecil di Tengah Relaksasi yang Lebih Besar
Cashback ini melengkapi rangkaian keringanan yang sudah berjalan di Jawa Tengah: diskon pokok PKB 5 persen sejak 20 Februari 2026 hingga 31 Desember 2026 melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/43 Tahun 2026, serta pembebasan denda dan pajak progresif pada 21 September hingga 28 Desember 2026. Secara politik, logikanya jelas: Pemprov ingin mengubah pajak dari kewajiban yang ditunda menjadi kebiasaan yang dihargai. Namun ukurannya juga jelas — lima penerima per hari adalah simbol, bukan insentif massal. Keberhasilan program ini tidak diukur dari berapa orang menang cashback, melainkan dari apakah antrean Samsat menjadi lebih tertib dan kepatuhan benar-benar naik setelah 31 Desember 2026. Sampai data itu ada, cashback ini lebih tepat dibaca sebagai pesan pemerintah daerah kepada wajib pajaknya: datang tepat waktu, dan kami mencatatnya.