Terkini
Artikel dan ulasan politik

DPR DAN PARTAI

NasDem Bidik 100 Kursi DPR 2029: Ambisius, tapi Jalannya Terjal

NasDem memasang target 100 kursi DPR dan posisi tiga besar pada Pemilu 2029, naik dari 69 kursi yang diraih pada 2024. Target itu bertumpu pada konsolidasi daerah, tetapi konflik internal dan tren suara yang melandai menjadi ujian pertamanya.

Oleh 06 NOV 2026 4 menit baca
Kantor pusat Partai NasDem di Menteng, Jakarta

Partai NasDem membidik kursi lebih banyak pada Pemilu 2029. Bukan sekadar pernyataan optimistis di sela peringatan hari ulang tahun partai: di baliknya ada target yang sudah berulang kali disampaikan elite NasDem sepanjang 2026 — 100 kursi DPR dan posisi tiga besar, naik dari 69 kursi yang diraih pada Pemilu 2024.

Target sebesar itu bukan mustahil, tetapi juga bukan perkara gampang. Tiga pemilu terakhir memang menunjukkan NasDem sebagai partai yang konsisten tumbuh. Pertanyaannya: apakah mesin pertumbuhan itu masih cukup kuat untuk melompat hampir separuh lagi?

Dari 69 Kursi Menuju 100: Apa Dasarnya

Fakta yang terverifikasi: pada Pemilu 2024 NasDem meraih 69 kursi DPR dan menempati peringkat keempat. Target 100 kursi dan posisi tiga besar kembali ditegaskan dalam kegiatan Laboratorium Gerakan Perubahan (LAGA Perubahan) Partai NasDem Fase Kedua Angkatan ke-10 di Akademi Bela Negara pada 16–18 Oktober 2026, seperti dilaporkan Radar NTT.

Dasar klaim partai adalah tren suaranya: menurut catatan yang dikutip Radar NTT, perolehan suara nasional NasDem berada di atas enam persen pada Pemilu 2014, lalu di atas sembilan persen pada Pemilu 2019 dan 2024. Target tiga besar itu sendiri sudah disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem Saan Mustopa jauh sebelumnya, saat Kongres II Garda Pemuda NasDem pada Juli 2026: “Kita selalu mengalami peningkatan yang signifikan, dan kita ingin di tahun 2029 yang akan datang, NasDem ada dalam posisi tiga besar pemenang Pemilu.”

Ketua DPP Partai NasDem Bidang Hak Asasi Manusia Taufik Basari (Tobas) menyampaikan nada yang sama di Kompleks Parlemen, Senayan, pada 19 Oktober 2026: “Jadi yang jelas tentu kita menginginkan ada peningkatan suara dari pemilu yang lalu, di mana selama pemilu yang telah dijalankan oleh NasDem, kita selalu berhasil untuk meningkatkan perolehan kursi dan suara di tiap pemilunya.”

Sebagai hitungan: dari 69 ke 100 kursi berarti tambahan 31 kursi, atau naik sekitar 45 persen. Itu lompatan yang jauh lebih besar daripada kenaikan kursi NasDem dari 2019 ke 2024.

Konsolidasi Daerah Jadi Mesin Utama

Strategi yang ditempuh NasDem, menurut para pengurusnya, adalah konsolidasi organisasi sampai ke daerah. Tobas menyebut partainya terus melakukan konsolidasi di berbagai kepengurusan di seluruh daerah, dan ingin tampil bukan hanya sebagai partai pemilu, melainkan “partai gagasan”.

Di tingkat daerah, target-target itu sudah diterjemahkan ke angka yang konkret. Anggota DPR Fraksi NasDem Rajiv menargetkan dua kursi dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat pada 2029, dalam konsolidasi bersama ribuan warga di GOR Indoor Si Jalak Harupat pada 31 Oktober 2026: “Saya optimis. Pada 2029, kita bisa membawa dua kursi NasDem dari Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.” Di Kalimantan Utara, DPW NasDem menargetkan merebut kembali kursi DPR RI yang lepas serta membentuk fraksi mandiri di DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Pola yang sama terlihat di berbagai daerah: Pesawaran membidik 10 kursi DPRD, Sekadau membidik enam kursi, Lombok Timur membidik tujuh kursi.

Semua angka daerah itu adalah target yang dinyatakan para pengurus — bukan hasil pemilu, dan bukan janji yang sudah pasti tercapai. Tetapi polanya jelas: NasDem membangun target nasionalnya dari bawah, dari akumulasi dapil demi dapil.

Tantangan: Konflik Internal dan Tren yang Melandai

Ada dua ganjalan yang patut dicatat. Pertama, tren suara NasDem sendiri menunjukkan tanda melandai: dari “sembilan persen lebih” pada 2019 ke “sembilan persen lebih” pula pada 2024, menurut catatan yang dikutip Radar NTT — nyaris datar, berbeda dengan lompatan dari 2014 ke 2019. Artinya, target 100 kursi tidak bisa bersandar pada momentum lama; partai harus menemukan sumber suara baru.

Kedua, konflik internal. Pendiri Partai NasDem Sulawesi Tenggara, Jurni, memperingatkan bahwa pemecatan kader La Ode Tariala oleh DPP pada 26 Oktober 2026 berpotensi menggerus kepercayaan pemilih dan membuat NasDem kehilangan banyak kursi pada Pemilu 2029. “Ali Mazi sedang menggali kuburan untuk NasDem,” kata Jurni, seperti dilaporkan Sekilas pada 27 Oktober 2026. Itu adalah penilaian Jurni sebagai kritikus internal — bukan kesimpulan yang terverifikasi secara independen — tetapi peringatan itu menunjukkan bahwa konsolidasi yang digaungkan partai belum sepenuhnya rapi di semua daerah.

Momentum peringatan HUT ke-15 partai, yang rangkaiannya bergulir sejak 10 Oktober dan ditutup pada 12 Desember 2026, menjadi panggung bagi NasDem untuk menunjukkan bahwa mesin organisasinya masih solid. Apakah panggung itu berubah menjadi kerja elektoral, baru akan terlihat pada tahun-tahun berikutnya.

Apa Artinya bagi Peta Politik 2029

Bagi pembaca, target NasDem ini penting bukan karena angkanya, melainkan karena posisinya. Jika NasDem benar-benar menembus tiga besar pada 2029, hitung-hitungan koalisi dan komposisi pimpinan DPR akan berubah — partai menengah yang selama ini berada di lapis kedua akan naik ke meja utama. Sebaliknya, jika target itu hanya jadi slogan ulang tahun, NasDem berisiko tetap tertahan di peringkat keempat dengan suara yang nyaris datar.

Tiga tahun menuju 2029 masih panjang, dan target kursi pada tahap ini adalah pernyataan niat, bukan prediksi. Yang layak diperhatikan: apakah konsolidasi daerah benar-benar menghasilkan kader dan calon legislatif yang kuat, apakah konflik internal seperti di Sulawesi Tenggara mereda atau membesar, dan apakah DPP meresmikan target 100 kursi itu dalam keputusan partai — bukan hanya dalam pidato.

Sumber: Radar NTT (18 Oktober 2026); Forum Keadilan (19 Oktober 2026); Inversi (21 Juli 2026); Detikcom via Jawawa (2 November 2026); Fokus Borneo (2 November 2026); Sekilas (27 Oktober 2026, untuk kritik Jurni).

Nara UlasPolitik

Nara UlasPolitik adalah editor di UlasPolitik yang setiap hari mengikuti perkembangan politik Indonesia, dari Istana dan DPR hingga putusan pengadilan dan dinamika partai. Ia suka membedah isu yang rumit menjadi analisa yang masuk akal, dengan memisahkan fakta resmi, klaim pihak tertentu, dan spekulasi media sosial. Di luar layar, ia gemar membaca berita dari berbagai sumber, mencatat peta politik yang berubah cepat, dan mencari sudut yang paling relevan bagi pembaca di Indonesia.

Baca juga.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasPolitik. Artikel dan ulasan politik