Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kondisi Bisnis dan Prospek Manufaktur (IKBM) sebesar 52,75 pada triwulan III-2026. Angka di atas 50 menandakan manufaktur berada di zona ekspansi, dan capaian ini menguat tipis dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 52,67.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menyampaikan angka tersebut dalam konferensi pers BPS yang disiarkan daring pada Kamis (5/11/2026). Menurutnya, capaian ini mencerminkan sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi dan menguat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Rilis ini datang dalam paket yang sama dengan pengumuman pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026 sebesar 5,47 persen, yang sudah diberitakan UlasPolitik sebelumnya. Manufaktur menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar, dengan kontribusi 1,20 poin persentase dari angka 5,47 persen tersebut.
Tiga Survei Sejalan: Manufaktur Memang Ekspansi
IKBM bukan satu-satunya indikator yang menunjuk ke arah yang sama. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) tercatat 52,28 persen pada triwulan III-2026, naik dari 51,43 persen pada triwulan II-2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian juga berada di zona ekspansi selama Juli hingga September 2026, masing-masing 53,10; 52,30; dan 51,93.
Rincian komponen IKBM menunjukkan pendorongnya jelas. Menurut BPS, komponen produksi tercatat 55,04, naik dari 54,78 pada triwulan sebelumnya, sedangkan komponen pesanan mencapai 54,72. Edy Mahmud menyatakan, “Secara komponen, pada produksi, pesanan, stok, dan tenaga kerja mengalami ekspansi. Artinya kondisinya lebih baik dibandingkan dengan triwulan II 2026.”
Dari sisi produksi, industri logam dasar menjadi salah satu penopang, dengan pertumbuhan 9,94 persen yang sejalan dengan peningkatan ekspor logam dasar bukan besi dan baja seperti katoda tembaga, nikel matte, dan aluminium. Menteri Perindustrian Sarmuji sebelumnya, pada 26 Oktober 2026, juga sudah menyatakan manufaktur berada dalam fase ekspansi dengan merujuk pada data PMI-BI sebesar 52,28.
Catatan Penting: Lapangan Kerja Belum Sepakat
Di balik angka ekspansi itu, ada satu hal yang patut dicermati: survei BPS dan survei Bank Indonesia tidak sepenuhnya sepakat soal tenaga kerja. Komponen tenaga kerja dalam IKBM tercatat 50,14 — masih di zona ekspansi. Namun dalam PMI-BI, komponen jumlah tenaga kerja hanya 49,58 pada triwulan III-2026, masih di bawah ambang 50 meski membaik dari 48,65 pada triwulan sebelumnya. Bank Indonesia bahkan memprakirakan komponen ini tetap di zona kontraksi pada triwulan IV-2026, di level 49,93.
Perbedaan ini penting karena menyangkut pertanyaan yang paling dirasakan pembaca: apakah pabrik yang produksinya naik juga menambah pekerja? Data BPS sendiri mencatat jumlah penduduk bekerja naik 1,44 juta menjadi 147,99 juta orang pada Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tetapi pola “produksi naik, serapan kerja tertinggal” yang terekam dalam survei Bank Indonesia sudah berlangsung sejak triwulan II-2025, dan belum terputus.
Apa yang Perlu Diawasi ke Depan
Bank Indonesia memprakirakan PMI-BI triwulan IV-2026 berlanjut menguat ke 52,37, dengan produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan tetap ekspansif. Suku bunga acuan BI-Rate yang dipertahankan di 5,75 persen sepanjang triwulan III-2026 disebut BPS sebagai salah satu penopang.
Ujiannya kini ada di dua tempat. Pertama, apakah komponen tenaga kerja dalam survei Bank Indonesia akhirnya menembus angka 50 — penanda bahwa ekspansi benar-benar diterjemahkan menjadi lapangan kerja. Kedua, apakah pesanan yang masuk saat ini bertahan, mengingat IKI bulanan justru menurun dari 53,10 pada Juli menjadi 51,93 pada September. Ekspansi manufaktur pada triwulan III-2026 adalah fakta; apakah ia berlanjut menjadi pemulihan yang dirasakan pekerja adalah pertanyaan yang baru akan terjawab pada rilis berikutnya.