Terkini
Artikel dan ulasan politik

ANALISA

Menag di OASE III: Sains Bukan Lawan Agama, Tapi Ujian PTKIN

Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka OASE III PTKIN dengan pesan penguasaan sains dan teknologi. Ujiannya bukan pidato, melainkan apakah riset mahasiswa benar-benar menjawab masalah masyarakat.

Oleh 04 NOV 2026 3 menit baca
Ilustrasi suasana kompetisi riset dan sains mahasiswa PTKIN

Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2026 dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Rabu, 4 November 2026. Ajang ini berlangsung 3-7 November 2026 dan, menurut laporan Jawawa, mempertemukan 497 finalis dari 54 PTKIN, dengan bidang utama antara lain kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan.

Pesan yang dibawa Menag ke panggung itu mudah dikutip, tetapi sulit diuji: umat Islam harus menguasai sains dan teknologi agar tidak tertinggal dalam percaturan global. OASE III menjadi tempat pertama untuk menguji apakah pesan itu sekadar retorika pembukaan, atau benar-benar menjadi arah kerja PTKIN.

Apa yang sebenarnya dikatakan Menag

Fakta yang terverifikasi adalah pidatonya di OASE III, bukan kesimpulan sejarah di dalamnya. Menurut laporan Humas UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Menag menekankan bahwa Islam memiliki tradisi panjang menghargai ilmu pengetahuan, riset, dan kreativitas.

Klaim yang disampaikan Menag — dan karena itu harus dibaca sebagai argumennya, bukan sebagai fakta yang diuji artikel ini — antara lain: Nabi Muhammad SAW terbuka terhadap penemuan baru dan kreativitas umatnya, dicontohkan lewat apresiasi terhadap pemuda Madinah yang membuat lampu penerang masjid; strategi parit yang dikaitkan dengan Salman al-Farisi sebagai bukti riset dan kecerdasan intelektual; serta ulama masa lalu yang multitalenta, menguasai fikih sekaligus kedokteran, arsitektur, teknik pertanian, hingga social engineering.

Dua kutipan langsung yang dicatat UIN Banten itu penting karena menunjukkan nada pesannya. “Jadi kalau kalian kreatif, itu adalah anak tangga Anda untuk menjumpai Tuhan, Al-Halim (Allah Maha Kreatif), dan kita diajak untuk mencontoh sifat Allah yang kreatif,” ujar Menag. Soal era kini, ia mengingatkan agar kecerdasan buatan (AI) hingga super intelligence disikapi secara bijak, kritis, dan inovatif oleh generasi muda.

Setelah membuka acara, Menag meninjau stan expo kontingen PTKIN. Stan UIN SMH Banten, misalnya, memamerkan eco smart, bio ma’had, pytronic, hajj care, hingga aplikasi falak qiblah — contoh konkret bahwa yang dilombakan bukan hanya hafalan dan teori, melainkan produk.

Ujian sesungguhnya: dari lomba ke masalah nyata

Di sinilah analisis politiknya masuk. Kementerian Agama punya kepentingan yang jelas: PTKIN dan pesantren adalah basis sosial yang besar, dan narasi “sains plus agama” adalah cara pemerintah menjaga relevansi lembaga-lembaga itu di tengah persaingan perguruan tinggi umum dan tuntutan pasar kerja. Pidato yang baik tidak otomatis mengubah posisi itu.

Tolok ukur yang paling jujur justru datang dari pejabat Kemenag sendiri. Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, dikutip Jawawa mengatakan kemampuan sains dan teknologi PTKIN akan semakin kuat bila riset menjawab masalah yang dihadapi masyarakat. Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, menambahkan bahwa hasil kompetisi bisa membantu kampus mengidentifikasi riset mahasiswa yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

Contoh sebarannya terlihat dari UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, yang meloloskan finalis di tujuh cabang: Olimpiade Biologi, Sosial Kemasyarakatan, Karya Tulis Al-Qur’an, Dai Putra, Robotik, Desain Arsitektur Islam, dan Ekoteologi. Daftar itu menunjukkan OASE III memang tidak memisahkan agama dari sains — tetapi juga menunjukkan beban berikutnya: robotik, ekoteologi, dan riset sosial tidak akan berarti banyak bila berhenti di piala.

Yang belum terjawab

Pertanyaan yang belum bisa dijawab dari pemberitaan pembukaan ini — dan karena itu tidak boleh disimpulkan di sini — adalah: riset mana yang benar-benar ditindaklanjuti setelah 7 November, dengan pendanaan, pendampingan, dan pengguna di luar kampus? Apakah PTKIN mendapat ruang riset yang setara, atau OASE hanya menjadi etalase tahunan? Dan apakah “penguasaan sains” yang dimaksud Menag akan diterjemahkan ke kurikulum, laboratorium, dan kerja sama industri, atau tetap berhenti di panggung pembukaan?

Harapan Menag, seperti dicatat UIN Banten, adalah PTKIN terus bertransformasi menjadi pusat lahirnya ilmuwan, peneliti, dan inovator yang menyeimbangkan kedalaman spiritualitas dan kemajuan sains modern. Itu adalah harapan, bukan hasil. Nilai politik OASE III baru bisa dinilai setelah daftar tindak lanjut itu ada — bukan dari tepuk tangan di hari pembukaan.

Nara UlasPolitik

Nara UlasPolitik adalah editor di UlasPolitik yang setiap hari mengikuti perkembangan politik Indonesia, dari Istana dan DPR hingga putusan pengadilan dan dinamika partai. Ia suka membedah isu yang rumit menjadi analisa yang masuk akal, dengan memisahkan fakta resmi, klaim pihak tertentu, dan spekulasi media sosial. Di luar layar, ia gemar membaca berita dari berbagai sumber, mencatat peta politik yang berubah cepat, dan mencari sudut yang paling relevan bagi pembaca di Indonesia.

Baca juga.

Ilustrasi suasana politik di sekitar kasus dugaan penyadapan pimpinan negara
Analisa

Gekira: Sadap Pimpinan Negara Itu Makar

Gerakan Kristiani Indonesia Raya menilai penyadapan terhadap pimpinan negara sebagai bentuk makar yang mengancam kedaulatan, tetapi penilaian itu adalah klaim politik, bukan penetapan pasal oleh penyidik. Sampai bukti soal niat, persiapan, dan rantai perintah diumumkan, label makar tetap harus diuji, bukan diterima begitu saja.

Ilustrasi perempuan pelaku usaha mikro dan skema pembiayaan bersubsidi
Analisa

KPPS 8 Persen: Target 1,7 Juta Perempuan Prasejahtera

Kementerian UMKM dan PNM menandatangani kerja sama Kredit Program Perempuan Prasejahtera dengan bunga 8 persen flat per tahun dan target 1,7 juta nasabah hingga akhir 2026. Yang belum terjawab bukan niat baiknya, melainkan apakah penyaluran sebesar itu bisa tepat sasaran dalam waktu sesingkat itu tanpa mengorbankan seleksi dan evaluasi.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasPolitik. Artikel dan ulasan politik